Selasa, 16 Juni 2015

Cerpen Persahabatan (2) :)

Sahabat Kecilku


 

Cerpen Karangan: 
Lolos moderasi pada: 15 June 2015
Matahari siang ini sangat terik. Keringat bercucuran bagaikan hujan yang turun dengan begitu derasnya. Tepat pukul 2 siang, aku pulang sekolah. Aktivitasku usai sekolah adalah ganti baju lalu bergegas menuju meja makan untuk makan siang. Hari ini tak ada yang berbeda, semua kegiatanku berjalan dengan lancar. Usai makan, aku pun istirahat sejenak untuk sedikit menenangkan fikiran setelah kurang lebih 8 jam otak ini bekerja tanpa henti.
Kriing… Kriiing… ponselku berbunyi dan langsung ku menghampirinya.
’1 pesan masuk dari siapa yaa..’ pikirku sambil ku buka pesan itu.
Mbak, apa sore ini kamu ada kegiatan? Kalo tidak, jalan-jalan sore yuk…
Nggak ada, mau jalan kemana Va? Kok tumben ngajak jalan.. hehe
Kemana ajalah mbak, yang penting jalan. Ntar jam 5 aku ke rumahmu ya?
Oke ku tunggu kehadiranmu..
Itulah beberapa pesan dari Eva yang ku balas saat dia mengajakku jalan. Dalam pikiranku.. ‘kok tumben Eva ngajak jalan, biasanya ini anak paling susah kalo diajak jalan..’
Tepat pukul 5 sore.
“tok… tok… tok… Mbak, aku Eva udah siap jalan belum?” suara Eva terdengar dari luar kamar yang nampak sudah siap untuk pergi jalan-jalan sore.
“Ya.. ya.. tunggu bentar Va.”
Sebelum pergi jalan-jalan, tak lupa aku pamit kepada ibuku. Kami pun berangkat jalan-jalan mengendarai si “RED”. Sebutan motor kesayangan Eva. Sebenarnya peristiwa ini adalah peristiwa yang sangat jarang Aku rasakan. Pasalnya, meskipun Aku dan Eva adalah sahabat sejak kecil, tapi aku dan Eva jarang pergi bersama seperti sore ini. Sebab Eva adalah anak yang terbilang penurut kepada orangtuanya. Setiap minta izin kepada orangtuanya untuk pergi hanya sekedar bermain ke rumah teman, jika Dia tidak diberi izin, Dia pun tak akan pergi berangkat. Tetapi sore ini lain. Eva justru mengajakku pergi jalan-jalan. Walaupun aneh, tapi sangat senang hati ini. Kami sangat menikmati suasana ini. Suasana saat Aku dan Eva bermain bersama, bercanda, tertawa bahagia. Suasana saat bersama seperti inilah yang sangat mengesankan dan membahagiakan untukku.
Namun saat sampai di tempat favorit kami, Eva mengatakan hal yang membuatku tak mampu untuk berkata-kata.
“Mbaak, aku minta doa restunya ya!”
“Looh.. kenapa Va? Memangnya kamu mau kemana? Ada apa?”
“Mmm.. Nggak ada apa-apa kok mbak. Gini, 1 bulan lagi kan sudah tahun ajaran baru. Aku masuk SMA, tapi sepertinya aku nggak akan melanjutkan sekolah disini. Insya Allah aku akan melanjutkan sekolah di Jombang mbak. Makanya, aku minta doa restunya. Biar semunya lancar. Mbak disini juga semoga lancar.” jelas Eva dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
“Haaa…” Sambil melongo. Serasa dunia ini berhenti. Tak bisa aku berucap. Badan terasa kaku tak bisa bergerak. Nafas serasa terhenti. Kaget, sedih, kecewa semuanya menjadi satu. “Kok jauh Va?”
“Iya mbak, ini cita-citaku. Aku ingin melanjutkan di Tebu Ireng, Jombang.”
“oooh.” Tak bisa Aku menjawab penjelasan darinya. Saat itu ingin rasanya Aku meneteskan air mata.
Sepulang dari jalan-jalan, Aku langsung masuk kamar. Disinilah Aku luapkan perasaan yang ada dalam hatiku saat mendengar penjelasan Eva, bahwa sahabat ku yang satu ini hendak melanjutkan sekolahnya ke luar kota. Jauh dari ku, meskipun Aku tau jika dia pergi bukanlah untuk bermain, liburan, pindahan rumah ataupun hanya sekedar pergi berkunjung ke rumah saudara. Melainkan untuk mencari ilmu. Untuk menggapai cita-citanya. Ini niat yang mulia, Aku harus mengikhlaskannya.
Tak ada satu pun masa
Seindah saat kita bersama
Bermain-main hingga lupa waktu
Mungkinkah kita kan mengulangnya
Tiada… tiada lagi tawamu
Yang selalu menemani saat sedihku
Tiada… tiada lagi candamu
Ku dengarkan lagu itu samar-samar. Hingga tak ku sadari, air mata ku jatuh bercucuran. Seketika Aku mengingat akan masa-masa indah bersama sahabatku Eva. Saat Aku dan Eva pergi bersama-sama, bahagia bersama, bercerita pengalaman, bertukar pikiran. Saat itulah masa yang sangat indah. Benar-benar tak bisa ku lupakan masa itu. Kini, dia akan pergi jauh. Pastilah Aku akan sendiri disini.
“Perpisahan… perpisahan adalah salah satu hal yang paling ku benci. Awalnya bersama menjadi sendiri. Awalnya beramai-ramai menjadi sepi. Awalnya bahagia menjadi sedih.” Itulah sebaris tulisan yang tengah ku buat, sambilku dengar lagu tentang sahabat dari gita gutawa. Tulisan yang sangat menggambarkan suasana hati kecil ku.
“Toh kalo pun Dia pergi, terpisah jauhnya jarak, tapi ini semua kan demi cita-citanya. Ini juga untuk hal yang Insya Allah baik kok. Tak perlu menangis, iklaskan saja.” Gumamku dalam sunyinya malam untuk sedikit menenangkan hati kecilku.
Tak sadar jam telah menunjuk angka 10 malam. Ibuku menyuruhku untuk tidur.
“Mid, sudah malam. Tidur dulu!” suruhnya.
“Ya bu..” jawabku. Langsung ku matikan lampu kamar dan ku rebahkan tubuh yang sudah payah ini di atas tempat tidurku.
1 bulan berlalu.
Suara adzan subuh membangunkanku dari tidurku. Ku mulai hari ini dengan perasaan yang tak semangat. Aku sangat berharap jika hari ini tidak akan pernah terjadi. Karena aku tau jika Eva akan berangkat pagi ini. Sebelum berangkat, Eva pergi ke rumah ku.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalaam.. silakan masuk” jawabku
“Ya mbak, aku masuk.”
“Ada apa Va?” tanyaku demikian, meskipun aku ketahui dia datang ke rumahku untuk berpamitan.
“Mbak, hari ini aku berangkat ke Jombang. Aku mohon doanya ya mbak. Meski aku jauh disana, jangan lupakan aku. Semoga persahabatan kita terus abadi. Kita harus semangat mbak.” Jelasnya sambil mengusap air matanya, ia merasa sedih saat itu.
“Eva, tersenyumlah. Jangan menangis sahabat, kita pasti bisa menjalani ini semua kok. Ini kan tujuan dan cita-citamu. Kejarlah cita-citamu, semangat pokoknya. Kita akan terus bersahabat. Tenanglah. Disana kamu harus fokus dengan tanggung jawabmu.”
“Mm.. Ya mbak. Aku berangkat ya.”
Kami pun berpelukan untuk terakhir kalinya sebelum dia berangkat.
Beberapa menit kemudian, Eva berangkat bersama keluarganya. Aku hanya bisa mengantarkan kepergianya sampai di depan gang. Dia melambaikan tangan kepadaku. Aku membalasnya dengan senyuman.
“Selamat tinggal SAHABAT, Kejarlah cita-citamu”
Cerpen Karangan: Nur Hamidatus Sa’diyah
SEMOGA BERMANFAAT :)

Cerpen Anak (2) :)

Momen Terburuk


 

Cerpen Karangan: 
Lolos moderasi pada: 9 June 2015
“Huahm”. Rasanya malas banget untuk beranjak dari tempat tidurku. Hari ini adalah hari sabtu, aku harus bangun untuk berangkat sekolah sebelum terlambat. Dengan mata yang masih setengah terpejam aku menuju kamar mandi. Dan “Byur” aku mandi dengan cepat. Setelah mandi aku berwudhu untuk sholat subuh, sudah menjadi kebiasaanku untuk sholat lima waktu. Aku memakai seragam pramuka. Setelah ku rasa sudah rapi, kupakai mukena berwarna oranye untuk menunaikan sholat subuh. kulipat mukenaku dengan rapi, dan menuju ruang makan untuk sarapan. Di meja makan sudah tersedia sepiring nasi goreng dan segelas susu coklat. Saat perutku terasa kenyang, Aku bersiap siap untuk pergi sekolah.
“Ayo cepat, nanti terlambat” teriak ayah dari depan rumah sembari menaiki motor vario nya.
“Iya, bentar” jawabku sambil memakai sepatu.
Pagi ini aku berangkat sekolah bareng ayah yang sekalian kerja. Setelah aku duduk manis di motor, aku berpamitan kepada bunda. Dan… motor pun melaju cepat ke arah sekolahku.
Sesampainya di sekolah aku dismbut oleh rahma, ristya dan bita. MASIH SEPI.. batinku, berarti aku tidak terlambat. aku dan kawan kawan bermain di halaman sambil menunggu bel berbunyi. TEET.. TEET. TEET sura bel menyadarkan kami untuk masuk ke kelas. Bu Guru memimpin doa, semua murid tampak tenang dan tak ada yang usil.
Pelajaran dimulai, karena ini hari sabtu maka murid hanya ditugaskan untuk menggambar saja. Ada yang menggambar taman, gunung dan lain lain. Pelajaran usai, beberapa buku gambar sudah ditumpuk di meja guru. Saatnya aku pulang. Eittss tapi jangan pulang dulu, hari ini ada latihan drum band. Tapi karena guru pelatihnya belum datang, aku dan kawan kawan mmemutuskan untuk berjalan jalan. Sepanjang perjalanan kami tertawa dengan riang. Tiba tiba tawa kami langsung terhenti ketika melihat nena dan irham. Mereka berdua adalah sepupu, mereka berdua juga musuh kami di sekolah. Dengan suara yang keras, teman temanku langsung memaki nena. “Kalau berani maju sini, gak usah di belakang terus. beraninya cuma sama irham aja, kalau sendiri mah gak bakalan berani” Teriak rahma kepada nena. Tapi kedua kakak beradik itu diam aja dan tak mempedulikan teriakan kami.
“Udah udah, anak kaya gitu dibiarin aja gak usah diurusin. yuk kita jalan lagi” kataku sambil menarik tangan rahma.
Tiba tiba irham mengejarku dan kawan kawan. Kami semua berlari sekuat tenaga karena takut dengan irham. Irham memang terkenal sangar di sekolahku.
Akhirnya irham bisa mengejar kami semua. Dengan 1000 tenaga dan amarah yang tinggi, irham menendang rahma di bagian tasnya. Sehingga tasnya rahma kotor oleh sepatu irham. Aku yang berada di samping rahma pun menjadi takut kalau irham mau menendangku juga. Alhamdulillah… setelah itu irham pergi meninggalkan kami yang masih ketakutan. Syukurlah aku gak ditendang, yang ditendang cuma rahma doank.
Setelah kejadian yang menegangkan itu, kami kembali tertawa bersama untuk menghilangkan rasa takut yang sempat ada pada diriku dan kawan kawan. Itulah momen terburuk yang tak bisa ku lupakan.
Cerpen Karangan: Zahra Salsabila
SEMOGA BERMANFAAT :)

Cerpen Islami (2) :)

Setitik Cahaya Untuk Ibuku


 

Cerpen Karangan: 
Lolos moderasi pada: 4 June 2015
Hujan deras mengguyur permukaan bumi. Tajamnya pedang sang Kuasa membelah awan, menggelegarkan suara, menampakkan kilatnya.
Nampak miris dilihat, seorang wanita tengah dihujami jutaan tetes air, ditusuk tiupan angin. Tubuh lemahnya menggigil hebat. Bahkan air mata yang sebenarnya mengucur deras sudah tidak kentara, karena hebatnya guyuran air.
Sinar matanya redup, tidak ada binaran di sana. Aisyah. Wanita berusia dua puluh tiga tahun ini memiliki sebuah mutiara. Anisa. Mutiara satu-satunya yang ia miliki. Namun apa daya, ia telah pergi dari pangkuannya sekarang.
Saat baru mengenal kata ‘Pacar’, ia sudah berubah menjadi gadis yang pembangkang. Ya, Aisyah dulu adalah remaja yang hamil dibawah usia atau hamil diluar nikah. Itu pun karena kecerobohannya sendiri, membiarkan lelaki masuk ke rumahnya, lalu lelaki itu diberi kebebasan untuk memasuki berbagai ruangan. Semenjak saat itu Aisyah diusir oleh kedua orangtuanya, keluarga dan kerabatnya tidak mau membantu Aisyah sama sekali. Namun, dengan seiring bergulirnya waktu ia dapat berubah. Berubah karena sang mutiara.
“Maafkan Ibu, Nak! Andai ibu bisa menggantikan posisimu, ibu akan melakukannya. Ya Allah, kenapa tidak ambil hamba saja? Aku sudah buta dan terlalu banyak dosa. Kenapa bukan aku?”
Ibu berjilbab hitam pekat itu masih tetap terduduk lemas di tengah-tengah hujan lebat, di dekat gundukan tanah yang berpatok nama mutiara yang amat sangat ia sayangi. Pikirannya melayang, melambung tinggi, mengingat masa lalunya…
“Assalamualaikum. Ibu lihatlah aku mendapat juara satu,” gadis mungil berjilbab putih tengah berlari dengan ceria sambil menggenggam kalung berbandul emas bulat berpahat ‘Juara Satu Tadarus Al-Quran’.
“Wa’allaikum salam. Wah, benarkah? Putri ibu dapat juara satu?” Ibu itu, Aisyah. Ia segera berdiri dari duduknya walau dengan bersusah payah saat mendengar suara putrinya.
“Iya, juara satu tadarus. Aku bisa mengaji dengan benar dan lancar. Jadi, aku bisa mendapatkan ini dan ini. Yang ini untuk Ibu,” Anisa tersenyum bangga sambil menunjukkan kalung bertali warna-warni, lalu memberikan sebuah amplop kecil di atas telapak tangan sang ibu. Anisa sebenarnya tidak tahu isi amplop itu, jadi ia serahkan saja pada Ibunya.
Aisyah tersenyum bahagia. Ia sangat menyadari kalau putrinya fasih membaca kitab suci Al-Quran. Bahkan sekarang Anisa sudah hafal juz satu Al-Quran. Aisyah tidak tahu mengapa putrinya bisa secerdas ini. Tapi ia yakin bahwa kecerdasan mutiaranya adalah pemberian dari Allah SWT.
Miris memang. Ia tidak tahu seperti apa rupa wajah putrinya sekarang. Yang ia tahu adalah mutiaranya bahagia, mutiaranya begitu menyilaukan.
“Bu, nanti Nisa kalau lulus SD Anisa mau ke sekolah favorit. Boleh, ya?” Anisa nampak harap-harap cemas.
Aisyah hanya mengangguk pelan. Sebenarnya ia bingun harus mencari uang ke mana. Sudah buta hanya tukang sayur pula.
“Ya Allah, harus ke mana hamba mencari uang untuk putri hamba? Andai saat itu Engkau tidak memberikan putri hamba cobaan, aku pasti bisa membahagiakannya.”
Aisyah melamun, ia benar-benar berpikir keras kali ini. Bagaimana tidak berpikir keras? Untuk makan saja masih kurang, apalagi untuk membiayai masuk ke sekolah favorit? Pasti sangat mahal, ia tahu di mana sekolah yang diinginkan putrinya itu. Espero. SMP Negeri Loro (dua) Ngawi.
Allah SWT tidak akan memberikan cobaan yang melampaui kemampuan hambanya. Namun, apa daya? Ini adalah cobaan. Allah memberikan cobaan bukan berarti tidak sayang, melainkan Allah ingin menguji ketaqwaan hamba-Nya. Di setiap cobaan pasti Allah SWT akan ada jalan keluar.
Sejak saat Anisa mencetuskan ingin melanjutkan ke sekolah favorit, ia semakin giat belajar. Tiap naik kelas ia selalu mendapatkan juara satu baik di sekelas maupun juara umum sekolah. Yang lebih menakjubkan ialah Anisa dapat menghafal tujuh juz Al-Quran saat ia lulus sekolah dasar.
Ketika lulus sekolah dasar, Aisyah tentu kerepotan dengan masalah Anisa yang ingin melanjutkan sekolah ke sekolah menengah pertama favorit. Namun sirna sudah, lenyap semua kekuatirannya. Berkat kecerdasan yang dianugrahkan oleh Allah kepada Anisa, ia (Anisa) mendapat biaya siswa.
Allah SWT maha pemurah, pengasih, lagi maha penyayang. Sesungguhnya ia akan mengabulkan doa setiap hamba-Nya yang mau beramal soleh dan mendirikan sholat. Allah tidak pernah membedakan manusia dari paras dan harta. Ketaqwaan itulah yang membedakan manusia di hadapan Allah SWT.
Anisa melewati masa pendidikannya dengan lancar, bahkan ia sempat loncat kelas beberapa kali. Setiap adsministrasi apapun selalu gratis. Itu karena kecerdasannya yang dititipkan oleh Allah. Bahkan Anisa sudah dijamin untuk menuntut ilmu di sekolah menengah atas favorit, Smada, SMA Negeri 2 Ngawi secara gratis.
Kini Anisa sudah tumbuh menjadi gadis solehah, cantik amalnya, dan cantik parasnya. Kulitnya kuning langsat, mata bulat teduh bagaikan lentera, senyum manisnya selalu mengundang semut yang selalu mencari kemanisan. Suara lemah lembutnya begitu indah menabrak indra pendengaran, didengar seribu kali pun tidak akan pernah bosan untuk mendengarnya. Bahkan daun telinga akan merindukan getaran merdu yang ia tangkap bila sedetik tidak mendengarnya.
“Bisamillaahir Rahmaanir Rahiim..
Wat tiini waz zaytuun. Wa tuuri siiniin. Wa haazal baladil amiin. Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim. Tsumma radadnaahu asfala saafiliin. Illal laziina aamanuu wa ‘amilus saalihaati falahum ajrun gayru mamnuun. Famaa yukazzibuka ba’du biddin Alaysallahuu bi-ahkamil haakimiin.” ( Q.S. At-Tin: 1-8 )
Suara merdu Anisa memenuhi ruang sunyi. Setiap makhluk Allah diam untuk mendengar suaranya. Bahkan batu sekali pun juga ikut menyimak Anisa. Hanya ada hampa di sekelilingnya. Rumah reot berdinding anyaman bambu seakan menjadi saksi amalan Anisa.
“Sadakallah huladziim,” Annisa tersenyum sambil menutup lembaran tebal yang terbalut sambul berpola indah. Lalu ia menoleh ke arah sang Ibu, “Alhamdulillah. Allah SWT memang hakim yang paling adil, Nak. Suara putri ibu merdu sekali, tajuwidnya sudah benar. Sekarang hafal berapa juz, Nak?”
Aisyah yang sedari tadi duduk bersila di dekat mutiaranya nampak berseri-seri. Lebih segar dari sebelumnya setelah mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Quran.
“Allah memang selalu adil, Bu. Itulah jawaban dari surat At-Tin ini. Alhamdulillah semua berkat Ibu yang selalu mengajariku. Terimakasih, Ibu. Alhamdulillah, Anisa sekarang sudah hafal lima belas juz.”
“Alhamdulillah. Nak, bukankah esok adalah hari pengambilan raport sisipan?” Suara lembut Aisyah nampak bervibrasi.
“Iya, Bu. Yang mengambil raport harus orangtua, memangnya ada apa? Bukankah Ibu sudah kuberi tahu sejak kemarin-kemarin?”
Anisa meletakkan kitab suci Al-Quran di atas meja kecil yang berada di samping kanannya, lalu melepas mukena putih kecoklat-coklatan yang ia kenakan.
“Apa ada mas..”
“Tidak, tidak ada masalah sama sekali, Nak,” Aisyah langsung memotong cepat.
Ya Allah, hamba tidak punya baju bagus yang terbuat dari sutra, hamba tidak punya pakaian yang semewah ratu. Pasti putri hamba akan malu kalau hamba datang dengan pakian kumel, jelek, lusuh.
Aisyah termangu, ia tidak bisa datang. Ia tak mau mutiaranya jatuh. Ia tak mau mutiaranya berubah menjadi usam dan tidak bersinar lagi.
“Ibu, Anisa berangkat dulu. Nanti Ibu harus datang tepat waktu. Anis tunggu di depan sekolah. Kalau begitu, Anis berangkat. Wassalamu’alaikum,” Anisa berucap dengan semangat, ia tidak menyadari raut wajah sang Ibu. Dengan segera ia menyalami Aisyah.
“Iya, hati-hati di jalan. Wa’allaikum salam.”
Aisyah melengkungkan bibirnya membentuk sabit baru. Ingin sekali rasanya ia bilang pada Anisa kalau ia tidak punya baju bagus untuk mengambil raportnya nanti. Ia yakin, pasti nanti Anisa akan malu dan dicemooh oleh teman-temannya nanti bila ia memakai baju yang jelek. Tidak, Aisyah tidak akan membiarkan semua itu terjadi.
Dengan perlahan wanita berkerudung hijau tua berpipi tirus itu berjalan menggunakan tongkat kayu rapuh. Dengan segala ingatannya ia mencoba menghitung langkah menuju ke luar rumah. Kali ini bukan untuk berjualan di pasar, tapi ingin pergi ke rumah tetangga. Hanya satu tujuan, yaitu meminjam baju.
Allah SWT telah mengirimkan bidadari-bidadari pelindung ke bumi. Suatu ketika bayi mungil bertanya kepada Allah SWT saat ia hendak diturunkan ke bumi, Ya Allah, siapa yang akan melindungi hamba bila aku turun ke bumi sendirian? Bukankah banyak orang jahat yang bisa saja menyakitiku? Allah SWT berfirman yang artinya, Sesungguhnya bila engkau turun ke bumi nanti, sudah Kusiapkan seorang malaikat pelindung yang akan melindungimu. Bahkan ia rela mati hanya untuk melindungimu.
Mentari mulai di junjung tinggi oleh peraduan. Memancarkan sinar yang menerpa setiap makhluk yang berada di bumi. Borosnya intensitas cahaya membuat siapa pun yang melihatnya akan memejamkan matanya. Silau. Tapi tidak dengan wanita separuh baya yang mengenakan jilbab berwarna kuning gading itu. Walau wajahnya berseri namun hatinya tidak berseri seperti wajahnya. Hatinya resah, ia takut kalau pakaian yang ia pinjam dari tetangganya tidak sebagus milik para wali yang datang ke sekolah mutiaranya. Pakaian itu begitu sederhana, hanya sebuah gamis orange berbatik bunga-bunga anggrek kering yang menjuntai ke bawah. Setidaknya ini adalah pakaian terbaik yang tetangganya miliki. Masih syukur tetangga mau meminjami, coba kalau tidak? Aisyah hanya akan memakai daster batik murahan.
“Maaf, ada orang di sini? Bisa tolong bantu saya?” Aisyah mengeraskan suaranya yang lembut. Ia berhenti berjalan.
Pernah suatu ketika Aisyah diajak oleh Anisa menuju ke sekolah, tentu dengan berjalan kaki. Secara diam-diam, Aisyah menghitung langkah kaki dan menghafal arah jalan. Aisyah masih ingat betul, namun ia ingin tahu sudah sampai di manakah ia? Sampai di depan sekolah atau masih berada jauh dari tempat sang mutiara menunggu?
“Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” Suara berat seorang pria berbadan besar membuat Aisyah merinding.
“Saya hanya ingin bertanya, apa ini sudah dekat dengan Smada?”
“Sudah, Bu. Hanya tinggal beberapa meter saja. Mari saya antarkan.”
Gadis cantik dengan seragam batik berwarna pink dan rok menjuntai ke bawah berwarna putih sedikit lusuh masih setia berdiri di dekat gerbang sekolah. Jilbabnya yang tak seputih susu terlihat luncek di bagian ujung depan. Sedari tadi ia meremas-remas ujung jilbabnya, harap-harap cemas menanti kehadiran sang malaikat penjaganya.
Sebenarnya Allah SWT tidak pernah tidur, ia selalu memandang hambanya. Sesungguhnya, Allah SWT selalu berada di samping kita. Malulah kamu dengan perbuatan dan perkataan buruk yang kau lakukan dan ucapkan saat Allah SWT selalu bersamamu.
Anisa berjalan sambil menuntun sang malaikat yang terlihat memasang lengkungan sabit baru di bibir keringnya. Sesekali Anisa tersenyum pada teman-temannya yang menyapa. Tidak sedikit cemoohan yang telah Anisa dengar selama perjalanan menuju kelas untuk mengantar Aisyah. Anisa sangat bersyukur sang Ibu tidak mendengar ocehan tidak jelas dari teman-temannya. Walau demikian, Anisa tetap memberikan senyum lembutnya pada teman yang mencemoohnya.
“Nak, apa kelasmu masih jauh?” Aisyah nampak berkeringat.
“Sudah dekat, Bu.”
Setelah mengantarkan Aisyah masuk ke kelasnya dan duduk di bangku dengan beberapa wali yang lain, Anisa bergegas ke luar kelas.
“Eh, ternyata Ibu Anisa buta. Ya, sayang banget, anaknya pintar jurusan IPA kelas unggulan, waktu SD dan SMP sering loncat kelas, cantik, tapi Ibunya buta,” suara mlengking dari samping kiri tempat Anisa berdiri tentu membuat Anisa menoleh cepat.
“Am, dengar-dengar keluarga Anisa juga udah pecah kaya kapal pecah,” imbuh teman laki-laki Amy, Avega.
“Masaksih, Veg?”
“Iya.”
Anisa menghela napas kasar, kesabarannya benar-benar diuji sekarang. Mata lentera miliknya terpejam kuat, napasnya nampak tersenggal. Jari-jari lentiknya mengepal kuat-kuat. Wajahnya sudah merah menahan hasrat kemarahan yang dipendam.
“Sabar, Nis!” Suara berat dari sahabatnya membuat Anisa mengelus dada. Rezha.
Mutiara tidak selalu berkilau, terkadang ada kalanya untuk redup dan usam. Mutiara akan selalu digesek untuk mendapatkan keindahan yang sesungguhnya. Mutiara akan selalu diterpa gelombang, namun terkadang ia bersembunyi di balik karang. Berlindung.
Ketika Allah SWT hendak menurunkan seorang bayi ke bumi, bayi tersebut kembali bertanya, Lalu siapa yang akan merawat hamba? Apakah hamba harus hidup sendirian? Siapa yang akan menyayangiku? Allah SWT berfirman yang artinya, Sesunguhnya telah Kukirimkan malaikat untuk merawat dan menyayangimu dengan sepenuh hati. Maka sayangilah ia melebihi dirimu sendiri.
Anisa masih melamun, sedari tadi pikirannya penuh dengan asap-asap kelabu yang menyelimutinya. Di rumah reot yang beratap lubang-lubang itu napasnya terasa makin sesak ketika mengingat setiap perkataan teman-temannya. Semenjak kedatangan sang Ibu yang mengambil raport sisipan miliknya beberapa hari yang lalu, Anisa terus dicemooh. Bahkan sindiran itu terasa lebih menancap dari yang sebelumnya.
“Dengar-dengar, Ibu buta itu mengandung Anis di luar nikah mencampakkannya.”
“Katanya sih keluarganya miskin karena ulah Ibu si Anis sendiri.”
“Ah, sebenarnya kalau menurutku, Ibu Anis yang salah.”
“Ih, cantik-cantik kok miskin. Ibunya buta lagi, parahnya dia anak haram.”
Sekelabat perkataan pisau itu menyerang ulu hatinya. Matanya memanas, jemari panjangnya mengepal kuat, wajah ayunya memerah. Dapat didengar dengan jelas deruan napas memburu. Sungguh, mata lenteranya terbakar oleh apinya sendiri, kilatan amarah terlihat jelas sekarang.
Dengan langkah tergesa-gesa Anisa menghampiri Aisyah sang Ibu yang sedang berada di depan rumah. Ibu bermata hati itu tengah mempersiapkan sayur yang ditata di atas gerobak untuk dijual di pasar.
“Ibu! Apa benar kalau Ibu hamil di luar nikah? Dan apa karena Ibu juga kita jadi miskin? Apa anak itu adalah aku?” Tak ada lagi nada suara Anisa yang lembut, yang ada adalah suara Anisa bak petir membelah langit.
“Nak, kamu kenapa?” Suara Ibu Anisa melemah.
“Jawab saja!”
“Kamu tahu dari mana?” Suara parau sang Ibu tidak membuat Anisa terhenyak ataupun merasa bersalah. Ia bernar-benar kalah oleh setan.
“Dengan pertanyaan itu, kusimpulkan kalau jawabannya adalah IYA. Sekarang, Ibu pergi! Cari uang yang banyak! Aku tidak ingin melihat Ibu pulang dengan tangan kosong, bawakan aku uang yang bayak!”
Aisyah terlonjak kaget, matanya berair. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan kalau mutiaranya akan menghitam seperti ini. Seketika air matanya menetes tanpa henti. Kegelapan yang dirasakan oleh Aisyah semakin dalam saja, tidak hanya di mata di hati pun juga.
“Kamu bukan Anisa putriku. Kamu siapa?” Suara lembut Aisyah semakin bervibrasi hebat.
“Sudah kubilang, pergi! Cepat cari uang yang banyak!”
Hancur sudah perasaan Aisyah. Ulu hatinya terasa perih. Dengan perlahan kesadarannya mulai kembali, akal sehatnya mulai berlogika kembali. Langkah pendeknya ia mulai untuk mendorong gerobak tua yang ditumpangi berbagai macam jenis sayur.
“Ya, sana cepat pergi!”
“Ya Allah, apa yang Engkau lakukan pada putri hamba? Mengapa ia bisa seperti itu? Kenapa Engkau tiba-tiba mengubahnya menjadi mutiara hitam? Apa karena hamba tidak bisa membahagiakannya? Apa ini karma untuk hamba, Ya Allah? Luar biasa menyakitkan, Ya Allah.”
Dengan kasar Aisyah mengusap air matanya, dengan sigap ia mendongakan kepala ke arah langit biru yang cerah. Namun ia sendiri bingung, mengapa tidak seterang mentari? Padahal biasanya ia lebih cerah dari mentari sekali pun saat Anisa selalu menyayanginya.
“Ya, aku akan mencari uang yang banyak untuk putriku,” suara pelan itu hanya untuk menyemangati dirinya sendiri.
Sudah berjam-jam Ibu bermata hati suci yang mengenakan daster batik kusam dan luncek berdiri sambil berteriak-teriak untuk menawarkan sayur-mayur yang ia jual. Kerudung hijau tua miliknya tak lagi kering, sebagian sudah basah untuk menyeka peluhnya.
“Bu, sudah waktunya shalat dhuhur. Tidak ke masjid? Biasanya dengar adzan langsung ke masjid? Atau mau berangkat bersama saya?” Suara pedagang sayur di sebelahnya sedikit mengejutkan Aisyah.
“Nanti dulu saja, Bu. Saya harus dapat uang dulu.”
“Bu, lebih baik shalat dulu. Mari ke masjid bersama-sama, saya juga mau shalat,” suara teman dagang Aisyah semakin dekat. Bertanda akan menghampirinya.
Kali ini tak ada bantahan, Aisyah menurut saat wanita yang lebih muda darinya itu menuntunnya untuk pergi ke masjid menunaikan shalat dhuhur. Sebenarnya dalam hati ia merutuki kata-katanya untuk menunda shalat. Sekarang ia takut dilaknat Allah SWT.
“Ya Allah, Engkau Maha Pengasih, Penyayang, lagi Maha Adil. Ya, Allah ampunilah dosa putriku, berikanlah ampunan-Mu. Ya Allah, maafkan hamba yang tidak sanggup membahagiakan putri hamba. Hamba tidak pantas disebut sebagai Ibu oleh Anisa. Ya Allah, kumohon berikanlah kebahagiaan untuk putriku. Amiiin Ya Rabbalal’amin.”
Aisyah mengusap air mata yang mengalir di pipinya pelan. Ia lebih tenang setelah mencurahkan isi hatinya kepada Allah SWT. Kemudian ia melepas mukena yang ia pinjam di masjid.
Allah SWT Maha Pengampun. Menyesallah kamu yang tidak mau meminta ampunan-Nya. Allah SWT Maha Adil. Setiap manusia mempunyai takdir yang telah diatur oleh-Nya, maka kita hanya perlu berusaha mengubah nasib agar menjadi takdir yang sesungguhnya.
Di setiap harinya, Aisyah semakin tak berdaya. Bahkan terkadang ia tidak pulang karena sayur yang ia jual belum laku. Pernah suatu ketika ia pulang tanpa membawa uang sepeser pun, Anisa marah besar lalu menyuruh sang Ibu untuk kembali bekerja. Semenjak Anisa kalah oleh setan, ia tidak pernah lagi mengenal shalat, tadarus, hafalan, dan Allah SWT. Naudzubillahi mindzallik.
“Hei, hamba Allah! Jangan pernah kamu menyakiti hati Ibumu! Jangan pernah kau menyakitinya. Durhakalah kamu bila melakukannya. Ketahuilah, semua yang kamu tahu dari teman-temanmu adalah salah. Bapakmulah yang menodai Ibumu dan membuat Ibumu dikucilkan oleh keluarganya sendiri. Bahkan Ibumu diusir. Dan matamu adalah cahaya Ibumu. Ketahuilah Sahabat Nabi pernah bertanya, “Siapa yang harus ku sayangi terlebih dahulu, Ibu atau Bapak?” Nabi menjawab, “Ibu”. Sahabat Nabi kembali bertanya, Nabi Muhammad SAW tetap menjawab sama, “Ibu”. Lalu Sahabat Nabi bertanya lagi untuk yang ketiga kalinya, jawabannya sama “Ibu”. Sahabat Nabi bertanya lagi, dan jawabannya adalah “Bapak”.
Durhakalah kamu menyakiti Ibumu, dilaknat kamu karena melupakan Allah SWT. Seburuk apapun Ibumu, terimalah ia.”
Anisa bangun dengan napas terengah-engah. Peluh membasahi dahi berkulit langsatnya. Mata lentera itu kembali lagi, ia mengerjap berkali-kali. Kedua tangannya mengelus dada.
“Mimpi apa tadi? Apakah Allah ingin menunjukkan kepadaku yang sebenarnya? Ya Allah, ampuni hamba yang telah durhaka pada Ibu dan melupakanmu. Ampuni hamba, Ya Allah, ampuni hamba,” suara Anisa bergetar hebat. Air matanya tumpah tak beraturan.
Pagi ini Aisyah baru saja pulang dari berjualan di pasar. Uang yang didapat lebih banyak dari hari biasanya. Ia yakin Anisa akan senang. Dengan senyum yang mengembang Aisyah berlari menuju dalam rumah.
“Bu, Ibu dari mana saja?” Suara lembut Ibu Rahmi tetangganya.
“Dari pasar. Memang ada apa? Kelihatannya di rumah saya kok ramai?”
“Anisa meninggal, Bu. Tadi, saat jam tiga. Anisa meninggal sehabis shalat tahajud dan membaca Al-Quran. Begitu cerita yang saya dengar-dengar.”
Masa lalu itu telah hilang, yang ada hanya masa sekarang. Masih di tengah guyuran hujan yang ditemani kilatan-kilatan dari langit. Aisyah masih tetap bersimpuh di dekat pusara sang mutiara. Bahkan ia memaki dirinya sendiri, disaat-saat terakhir putrinya ia tidak bisa membahagiakannya. Dan ia tidak tahu mengapa putrinya bisa meninggal setelah membaca Al-Quran. Inilah kekuasaan Allah SWT terhadap alam semesta beserta isinya.
Wajah Aisyah seputih pasir pantai, bibirnya yang memutih sekarang mengering, pipinya bertambah tirus dan mungkin akan semakin tirus.
“Ya Allah, kenapa putriku dahulu yang meninggalkanku?” Teriakan itu terdengar menyayat hati. Perlahan pertahanan Ibu bermata hati itu roboh. Ia pingsan.
“Assalamualaikum. Ibu, ini Anisa. Anis hanya ingin meminta maaf pada Ibu. Dan Anisa senang di sini, Anisa bahagia di sini berkat doa Ibu. Bu, Anisa sudah tahu semuanya. Maafkan Anisa yang menyakiti, Ibu. Ibu, aku sendiri yang meminta Allah untuk mengambilku, jadi Ibu tidak perlu merasa kuatir. Aku akan baik-baik saja. Bu, aku hanya ingin mengembalikan kesalahan terbesar yang mungkin indah untuk Ibu. Aku hanya ingin mengembalikan mata lentera ini. Maafkan Anisa yang selalu merepotkan Ibu. Bu, kuharap Ibu akan lebih bahagia dan lebih dekat dengan Allah tanpa diriku. Suatu hari nanti kita akan bertemu lagi, Bu. Jadi Ibu tidak perlu merindukan diriku. Terimakasih, Ibu, malaikatku. Wassalamu’alaikum.”
SELESAI
Cerpen Karangan: Endah Nisrinasari
SEMOGA BERMANFAAT :)

Cerpen Fabel ( Hewan ) :)

Buaya dan Kerajaan Katak


 

Cerpen Karangan: 
Lolos moderasi pada: 25 May 2015
Pada suatu hari, ada sebuah kerajaan katak. Yang dipimpin oleh seekor katak yang dapat sihir. Akan tetapi di sana juga hiduplah seekor buaya. Ia senang memangsa warga dari kerajaan katak. Raja yang mendengar berita ini langsung menjadi marah. Karena mendengar berita dari pasukannya yang dimangsa oleh seekor buaya.
Lalu raja katak siang itu langsung mendatangi sang buaya dengan didampingi oleh para pasukan di belakangnya.
“Wahai buaya!” Sentak sang raja.
“Ada apa katak kecil?” Sahut buaya dengan sindiran.
“Mengapa kau memakan para wargaku yang tidak punya salah kepadamu?” Tanya raja dengan agak marah.
“Aku lapar” Jawab sang buaya. “Dan aku hanya ingin makan katak” Lanjut sang buaya.
“Jika kau terus memakan para wargaku, kau akan ku sihir menjadi seekor katak! Agar kau juga merasakan bagaimana dimakan oleh temanmu sendiri” Ancam sang raja dengan nada keras.
“Apa?! Sihir katamu? Apakah seekor katak yang kecil dapat menyihir aku yang besarnya lebih dari sepuluh kali lipat dari besar badan seekor katak kecil sepertimu?” Kata buaya dengan nada menyindir dan sedikit tertawa geli.
“Jika kau masih berani memakan dari wargaku! Lihat saja nanti! Aku tidak main-main dengan perkataanku tadi!” Bicara sang raja dengan kembali mengancam.
“Baiklah… hahahaha..” Jawab sang buaya dengan nada tidak serius.
Akhirnya raja dan pasukannya pergi meninggalkan sang buaya yang sepertinya membandel.
Ternyata setelah diancam oleh sang raja, buaya masih berani memakan warga dari kerajaan katak. Raja yang kesal akibat sikap sang buaya yang membandel dan sulit dibicarakan. Langsung menghampiri sang buaya dengan kekesalan.
Sesampainya di tempat sang buaya, Raja Katak pun langsung mengeluarkan tongkat sihirnya yang sudah lama tidak dipakainya. Dan ia langsung menyihir sang buaya dengan tongkatnya menjadi seekor katak kecil. Sama seperti perkataannya saat berbicara kepada buaya kemarin siang.
Buaya takut akan dimangsa oleh buaya lainnya, karena ia telah berubah menjadi seekor katak kecil. Lalu ia pergi ke Kerajaan Katak. Dan menghadap sang raja. Ia meminta maaf, ia menyesal karena telah memakan dan mengabaikan pembicaraan sang raja kemarin siang. Dan ia berjanji untuk tidak memakan warga Kerajaan Katak lagi. Raja yang merasa iba, langsung membebaskan buaya dari kekuatan sihir sang raja. Akhirnya, karena merasa hutang budi, buaya lalu menjadikan dirinya sebagai benteng pertahanan Kerajaan Katak. Agar kerajaan katak aman dari mangsaan buaya lainnya.
Cerpen Karangan: Marisa Ulfa Vera
SEMOGA BERMANFAAT :)

Cerpen Cinta :)

Cinta di Dunia Maya



Cerpen Karangan: 
Lolos moderasi pada: 15 June 2015
“Although we have never met… but you were able to make me comfortable… I guess I’m fall in love…” Begitu statusku di fb. Namaku Indah, aku adalah seorang gadis berdarah minang. Aku sekolah di SMA 1 NBA yang terdapat di kota Padang. Aku seorang gadis yang humor dan sedikit bloon. Tapi walau bloon, otakku terkenal jenius dalam pelajaran. Terkecuali mapel Matematika. Ya, secara pelajaran itu sangat jarang diminati oleh kaum pelajar. Hobyku adalah eksis di dunia Maya. Ya, karena cuma itu hiburanku disaat galau mulai bermain di hatiku. Update status setiap saat, itu budayaku. Unggah foto? Aku banget. Mungkin kalau bisa dihitung foto yang udah aku unggah sekitar 1000 lebih kurang lah. Macam seleb aja ye? Tapi aku hanyalah seorang gadis biasa yang tak luput dari kesederhanaan.
Waktu itu aku lagi unggah foto di fb. Semata-mata cuma buat dapat like dari fb mania. Beberapa menit setelah unggah foto, ternyata udah ada 10 like aja. Dikit yach? Tapi masih untung, daripada sepi like. Seperti biasa siapa pun yang like setiap kirimanku di fb, pasti aku like back. Nggak pake insyaallah, nggak pake pending, langsung detik itu juga aku like back tanpa jaminan minta dilike balik. Ya, ini semua aku lakukan sebagai ucapan terimakasih. Aku pun mulai memeriksa para jempolersku. Spontan mataku tersorot pada satu nama. Namanya aduhaii muslim banget. “Ridho Maulana Ihsan” ya itulah namanya. Dengan lihai aku mengintip profilnya. Selang waktu melihat albumnya, aku mengirim pesan padanya untuk sekedar mengirim ucapan terimakasih. Eh, baru aja pesan aku ke send dia udah replay dia jawab “Iya sama-sama. Tu foto asli kan?” Pertanyaannya membuat hatiku panas dingin. Dengan sabar aku membalas. “Ya asli lah, masak cimplakan.” Dia balas “Alah, jangan boong pasti kamu ambil dari google!” “Wah ni bocah ngajak berantem kayaknya” ucapku kesal. Kata-katanya membuat emosiku meledak, bak Gunung Kidul yang meletus. Duaaarrr… Duaaarrr… “Maaf, saya tidak suruh anda untuk percaya. Jika anda tidak yakin dengan foto itu, terserah.” Jawabku penuh emosi. Dia kembali balas “Emang iya kamu ambil di google. Ketik aja cewek cantik, pasti ketemu kamu!!” Walah weleh ni orang pinter ngegombal juga ternyata. Aku nggak boleh ke GR-an dulu. Karena takutnya nanti ni orang ngeles lagi. “Alah, dasar gombal kamu!” Balasku. Dia jawab “Biar gombal, yang penting kamu seneng kan digombalin.” “Alah.. itu mah penyakit cowok pada umumnya…” Balasku sambil tertawa selengeh. “Hahaha, oh iya aku Ridho.. nama kamu siapa?” tanyanya padaku. Waduh ternyata selain aku, masih ada juga penerus penyakit bloonku. “Yaelah, tu kan udah kepampang di atas! Kagak liat ape?” balasku kesal. “Iya kan biar lebih formal.” Balasnya. “Aku indah.” Jawabku. Pembicaraan pun berlanjut.
Satu minggu sudah lamanya kami berkenalan. Meski hanya lewat dunia maya, namun aku merasa nyaman saat chattingan bareng dia. Semua itu karena sifatnya yang humoris dan dewasa dalam berbicara. Saat ini, dia lagi nggak on. Aku merasa sangat kesepian. Nggak tahu kenapa aku begitu sangat merindukannya. Mungkin ini karena sifatnya itu kali ya, makanya aku betah chattingan bareng dia. Malam mulai datang, sudah hampir tiap saat aku on. Tapi wujudnya tak muncul juga. Aku stress benar-benar stress. Nggak tahu kenapa aku resah seharian ini. Rindu itu seakan menghujamku. Hingga akhirnya aku melampiaskan kegalauanku dengan cara mengsms salah seorang sahabatku bernama Diana. Gadis yang sama gilanya denganku, gadis yang dalam hidupnya tak pernah lepas dari kata galau. Namun, sepertinya hari ini dia lagi nggak galau. Karena dia lagi travelling bareng teman-temannya. Oh Tuhaan… kepada siapa hendak kuluapkan galau ini. Sepertinya aku terjangkit virus galau tingkat Provinsi. Tak tahu mengapa aku begitu sangat merindukannya. Padahal kami belum pernah sekali pun bertemu. Tapi seakan aku telah mengenalnya lebih lama. Rindu ini seakan tak tertahankan lagi, hingga mampu menguras air mataku. Akhirnya lelap jugalah yang mampu menghilangkan rasa sedihku.
Sehari setelah itu. Aku kembali on dan berharap dia juga on. Namun, sepertinya dia belum hadir juga. Mukaku berubah menjadi kusam, bagaikan Sule lagi nangis. Tiba-tiba seseorang mengirim pesan di inboxku. Ketika ku buka ternyata itu dia. Aku happy banget. Seakan-akan dunia ikut bahagia melihatku, dan seakan mentari berkata. “Lagi bahagia ni yee.” Aku membalas pesannya dengan senyuman dan mencoba menanyakan kemana saja dia kemarin. Dia pun menjawab bahwa dia ingin tenang seharian. Hatiku cenat cenut ketika dia nanya apa aku kangen sama dia atau nggak. Demi menjaga citraku sebagai perempuan ya aku bilang nggak. Tapi hal itu malah tak membuatnya marah dan kecewa. Ia malah berkata bahwa ia sangat merindukanku dan selalu memikirkanku. Aku lagi apa ya? Aku kangen dia apa nggak ya? Begitu katanya. Oh.. aku bahagia tak terkira mendengar pernyataan itu darinya. Seakan ingin meneriaki langit. Namun, kuulur kembali keinginanku kan malu triak-triak di luar. Bahkan yang lebih membahagiakanku, dia memasang fotoku di profil fbnya. “Wahh sudah kito…” ucapku dengan logat padang.
Sebulan sudah kami berkenalan. Masih berhubungan lewat dunia maya. Nggak tahu kenapa dia sama sekali nggak pernah berusaha buat minta nomor handponku. Inilah yang membuatku penasaran dengannya dan ingin mengenalnya lebih dalam lagi. Pernah dulu ia mengadakan sebuah permainan untukku. Mungkin dengan cara inilah dia berusaha untuk mendapatkan nomorku. Yaitu dengan cara menyuruhku membuat sebuah status dan menandainya bersamanya. Jika aku mau, aku akan dibelikan pulsa. Aku tahu ini adalah trik dia buat dapatin nomor aku. Ya spontan aku bilang nggak mau. Aku mau lihat seberapa besar nyalinya, dan seberapa lama ia bertahan berkomunikasi di dunia maya seperti ini. Hingga pada akhirnya ia lelah sendiri dan meminta nomorku dengan sendirinya. Aku bahagia, sangat bahagia. Aku jejangkrikan kesana kemari kek nenek lampir kesentrum listrik. Tampak di balik pintu kamarku seseorang tengah menatap tingkah anehku. Siapa lagi kalau bukan abangku bang Rudi. Ia berkata “Kenapa lu?” tanyanya sambil menatapku aneh. “Mau tau aja lu!” jawabku cuek sambil melanjutkan aksi gilaku.
Dua bulan sudah kami berkenalan. Benih cinta itu mulai tumbuh di hatiku. Aku nggak tahu apa dia juga merasakan hal yang sama atau malah sebaliknya. Namun ternyata ia memiliki rasa yang sama denganku. Ia mengungkapkan semua perasaannya padaku melalui telepon dan berkata bahwa ia mencintaiku. Oh.. lepas sudah masa lajangku saat ini. Ia memintaku untuk menjadi pendamping hidupnya. Spontan aku menjawabnya “Aku juga memiliki rasa yang sama sepertimu.” Akhirnya kami pun resmi jadian. Meski pun kami belum pernah bertemu. Namun, hati ini telah berkata satu kata bermakna dalam yaitu CINTA.
Cerpen Karangan: Indah Laras
SEMOGA BERMANFAAT :)

Cerpen Motivasi :)

Impian Sang Bintang




Cerpen Karangan: 

Namaku Bintang Nesya Permata Putri, aku biasa dipanggil Bintang oleh kedua orangtuaku. Saat ini aku berusia 15 tahun, aku duduk di kelas 1 Sekolah Menengah Atas.
Aku bersyukur dan merasa bangga bisa masuk ke sekolah Favorit, karena aku mendapatkan beasiswa di sekolah itu. Semua itu tak lepas karena dukungan kedua orangtuaku. Hidup dengan berkecukupan, tak menghalangiku untuk berprestasi dan mencapai cita-cita ku, belajar dengan sungguh-sungguh itu adalah tekad ku.
Di pagi hari yang cerah ini, aku dengan riang gembira menuju ke sekolah, aku melangkahkan kakiku di sekolahku yang baru. Di depan pintu gerbang, aku berandai dan berharap, semoga impianku tercapai di sekolah ini. Semangat baru, teman baru dan lingkungan baru itulah yang terlintas di benakku. Aku berusaha menebarkan senyuman di wajahku.
Aku menghampiri sebuah mading pengumuman kelas, di mana aku melihat namaku tertulis jelas dan berada di kelas unggulan. “Bintang Nesya Permata Putri”, hal itulah yang membuatku bertambah semangat untuk menuntut ilmu disini. Aku berjalan menelusuri kelas-kelas, dan mencari dimana letak kelasku.
“braakk!!” aku tak sengaja menabrak seseorang.
“maaf-maaf, aku gak sengaja” Bintang meminta maaf
“Eh, hati-hati dong kalau jalan!!” dengan nada kesal
“iya, maaf. Hay, perkenalkan namaku Bintang!” Bintang mengulurkan tangannya dan mengajaknya berkenalan.
“Riska!” jawabnya dengan cetus dan berlalu begitu saja.
Ya ampun, kenapa aku harus bertemu dengan Mak Lampir!! Gerutu Bintang dalam hati.
Upss, tapikan aku yang salah, dan aku juga yang gak hati-hati karena terlalu bersemangat. Bintang menyalahkan dirinnya sendiri
Bintang terus berjalan dan mengingat-ingat letak kelasnya dan ia berharap semoga tidak sekelas dengan orang yang tadi ia tabrak.
Dan akhirnya Bintang menemukan kelasnya..
Kelas X-A, yapss ini kelasku. Bintang segera masuk ke dalam kelas, dan ia memilih bangku yang berada di tengah, tampak orang-orang asing yang nantinya akan menjadi teman-temannya. ia tercengang, saat melihat seseorang yang tadi ia tabrak, betapa angkuhnya dia, oh tidak!! Mengapa aku harus sekelas dengannya!.. Rasa semangat Bintang seketika luntur, karena harus sekelas dengan Riska.
Hari pertama masuk sekolah, adalah hari yang sangat menyebalkan buat Bintang. ia merasa minder berada di sekolah itu, bahkan ia merasa berbeda dengan anak-anak yang sekolah disitu.
“Rasanya tak ingin aku melanjutkan sekolah disini, tapi bagaimana dengan impianku?” Ucap Bintang
Sebuah impian yang ingin ia wujudkan untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah disitu.
Jam pelajaran pun telah usai, bel pun berdering, “kring, kring, kring”. Seluruh siswa dan siswi pun diperbolehkan pulang, hari pertama masuk sekolah, pulang begitu cepat karena hanya sekedar berkenalan dan menyusun struktur kelas.
Bintang pulang ke rumah dengan mengendarai sepeda miliknya, sedangkan teman-temanya banyak yang menggunakan motor, bahkan ada yang menggunakan mobil.
Bintang pun sampai di rumahnya
“Assalamu’alaikum” ucap Bintang ketika sampai di rumah.
“Wa’alaikum salam” jawab kedua orangtuanya Bintang.
Bintang pun tak lupa mencium tangan kedua orangtuanya.
“Bintang, sudah pulang, bagaimana sekolah barunya?” Tanya Ibunya bintang.
“Alhamdulillah bu, Bintang senang sekolah disitu..” jawab Bintang sambil merangkul pundak Ibunya.
Bintang bergegas masuk ke dalam kamarnya, untuk mengganti pakaiannya. Setelah itu ia merebahkan badanya ke kasur. “rasanya sangat lelah” gumam bintang, saat itu juga ia terlelap dengan nyenyak.
Keesokan harinya ketika Bintang masuk sekolah.
“Eh, ada si miskin” ejek Riska CS.
“minggir teman-teman si miskin mau lewat” ejeknya lagi sambil tertawa.
Seketika itu juga Bintang lari menuju taman belakang sekolah, ia berlari dengan berlinangan air mata. Bintang duduk di taman itu, sambil meratapi nasibnya.
“masuk sekolah yang katanya terfavorit memang membuatku senang bisa sekolah disini. tapi apakah aku tidak pantas bisa sekolah di sini, memang benar aku hanyalah orang biasa”. Ucap Bintang dalam hati sambil tersedu-sedu. Ia sangat sedih mengingat perkataan Riska.
Tap.. tap.. tap, terdengar suara langkahan kaki yang menghampiri Bintang.
“hay, Bintang” sapa seseorang yang menghampiri Bintang.
Bintang mengusap air matanya dan membalikkan badannya
“hay juga,” jawab Bintang dengan ramah.
“namaku Fitri, mau berteman denganku?”
Bintang mengangukan kepalanya, “sepertinya aku baru melihatmu hari ini?” tanya Bintang.
“Ya, aku memang baru masuk hari ini..” jawab Fitri.
Bintang bersyukur masih ada Fitri, setidaknya dia masih mau berteman dengan Bintang.
Setelah mereka mengobrol, mereka pun kembali ke kelas dan sekarang Bintang pun mempunyai seorang teman. Yaitu Fitri. Mereka pun berteman dengan baik.
Jam pelajaran pertama dimulai, Pak Tejo adalah seorang guru killer, namun baik hatinya.
Pelajaran matematika, memang pelajaran yang membosankan. Namun tidak untuk bintang, karena ia memang hobi berhitung sejak dulu. Ia terus memperhatikan Pak Tejo yang sedang mengajar.
Pak Tejo memberikan soal di papan tulis dan bertanya “siapa yang bisa mengerjakan soal ini!!”
Bintang pun mengangkat tangannya, namun ia kalah cepat dari Riska.
Riska pun maju ke depan, ia mengerjakan soal dengan cepat, secepat kilat tanpa menghapusnya.
“Kurasa, ia sudah terlatih” bisik Bintang kepada Fitri.
“Riska, memang orang yang cerdas” jawab Fitri
“Bagaimana kamu tau?” Tanya Bintang lagi. karena ia bingung sepertinya Fitri dan Riska sudah lama kenal.
“Aku dan Riska memang satu sekolah sejak SMP, dan Riska memang terkenal pandai, tapi sifatnya yang cendrung angkuh, membuatku tak ingin berteman dengannya lagi”. Jawab Fitri menjelaskan panjang lebar.
Pelajaran matematika telah usai, Pak Tejo tak lupa memberikan PR.
“Bintang, ngerjain PR bareng yukk!!” ajak Fitri
“ayo, boleh-boleh, ngerjain dimana?”. Tanya Bintang
“Di sekolah aja, abis pulang sekolah…”
“Oke” Bintang meng-iyakan ajakan Fitri
Eh, teman-teman nanti siapa yang mau ikutan belajar bareng? Teriak Fitri.
Semuanya mengacungkan tangan kecuali Riska. Fitri mencoba mengajak Riska agar ia ikut
“Riska, mau ikutan gak?”
“kayanya engga deh, aku mau ngerjain PR di tempat les ku aja!!” jawab Riska tanpa mengubah pikirannya.
Sepulang sekolah, mereka dengan antusias mengerjakan PR bersama, semakin lama, mereka semakin akrab, semenjak mereka sering ngumpul bersama. Bahkan mereka selalu melakukan kegiatan rutin belajar kelompok bersama sepulang sekolah.
“Ulala, pelajaran Pak Tejo lagi!!” ucap Fitri menggerutu.
“tenang pit, kita kan udah belajar bareng!”
“tapi, aku kan gak sepintar kamu Tang!” Fitri memuji Bintang.
“Ststtstt, sudah-sudah Pak Tejo sudah datang”
Anak–anak, apa kalian sudah mengerjakan PR semuanya!! Tanya Pak Tejo dengan garang.
“Sudah Pak!” Jawab siswa dan siswi dengan kompak.
Bagus-bagus! Ucap Pak Tejo
Riska, kerjakan nomor 1! Perintah Pak Tejo.
Riska pun maju ke depan, dan seperti biasanya ia selalu mengerjakan soal dengan mudahnya.
Pak Tejo membuka buku absen, dan menunjuk 1 orang untuk maju selanjutnya.
Seluruh siswa dan siswi merasa deg-degan, karena takut menjadi sasaran selanjutnya yang akan dipanggil oleh Pak Tejo.
“Fitri Indah Sari” kerjakan nomor selanjutnya
Fitri mulai mengerjakan soal itu dengan gemetaran, Fitri berkali-kali menghapusnya, tapi ia berhasil mengerjakanya walaupun ia mengerjakanya tak secepat Riska.
“Wah, hebat kamu Fitri, kamu yang biasanya gak bisa ngerjain, sekarang pandai sekali!” Kata Pak Tejo, memuji Fitri ketika sudah selesai mengerjakan soal.
“Hehe, iya dong Pak!!” jawab Fitri ia pun kembali ke tempat duduknya.
“Anak-anak, Bapak bangga dengan kelas ini, karena kelas ini menunjukan kemajuan yang sangat pesat dalam belajar”.
Seluruh siswa dan siswi bertepuk tangan, karena merasa gembira.
“Iya dong Pak, kita kan mengadakan kegiatan belajar kelompok, dengan rutin!” Sahut Fitri
“Bagus-bagus! Belajar kelompok memang salah satu cara yang paling ampuh dalam belajar. Selain soal menjadi mudah, kita juga mempunyai banyak teman, daripada kita harus mengerjakanya sendiri!” Respon Pak Tejo.
Saat itu, tiba-tiba ibu kepala sekolah masuk ke kelas X-A. Seluruh siswa dan siswi merasa bingung, karena tidak biasanya ibu kepala sekolah datang ke kelasnya. Seluruhnya merasa deg-degan dibuatnya, karena mereka tidak tau apa maksud kedatangan Bu Kepsek.
“Anak-anak ibu akan membawa kabar gembira” ucap Bu Kepsek
“Kabar gembira apa bu?” Tanya seluruh siswa dan siswi serempak.
“Anak-anak, sekolah kita akan mengikuti sebuah olimpiade matematika, dan Ibu akan memilih perwakilanya dari kelas ini, dan Ibu akan memilih…”
Saat seluruhya serius menunggu siapa nama yang akan di ucapkan oleh Bu Kepsek, tiba-tiba bel istirahat berbunyi “kring, kring, kring”
“Yahh,” ucap seluruh siswa dan siswi sambil tertawa.
“Siapa Bu orangnya, lanjutkan Bu,” teriak seluruhnya.
“Riska dan Bintang! Kalian yang akan menjadi perwakilan sekolah.” Ucap Bu Kepsek dan Pak Tejo.
“Wahh, selamat ya Tang!” Fitri memberi selamat kepada Bintang.
“Iya, maksih pit..”
Bintang merasa senang karena ia terpilih menjadi perwakilan sekolah untuk lomba olimpiade matematika. karena ini merupakan pengalaman pertamanya di SMA.
Saat itu ia meluapkan kegembiraanya lewat buku kecilnya yang selalu ia bawa saat sekolah, buku itu berisi curhatan-curhatan Bintang.
Dear Diary
Hari ini, aku senang sekali, karena aku terpilih menjadi peserta lomba olimpiade matematika, aku janji aku ga akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku berharap aku bisa mewujudkan keinginanku!!
Pasti bisa Tang? semangat!! good luck..
Setelah ia merasa lega telah menulisnya, ia menutup buku kecilnya dan menyimpannya di tas.
“Tang, ke kantin yukk!” Fitri datang menghampiri Bintang.
“Ayok, pit!” Sambil menarik tangannya Fitri.
“Makan bakso yuk tang!” Ajak Fitri ketika sampai di kantin.
“Emm, enggak deh aku lagi ngumpulin uang buat ditabung nihh!” Tolak Bintang
“Eh, tenang aja aku yang bayarin kok!” Tawar Fitri
Belum sempat Bintang menjawabnya, Fitri sudah memesan baksonya.
“Hehe, makasih Pit..”
“Iya, sama-sama tang, kamu kan udah ngajarin aku matematika.”
“Tang, besok semangat ya, buat lombanya, jangan mau kalah sama Riska!” Kata Fitri sambil mengacungkan jempolnya.
“Tapi aku gak yakin Pit,” jawab Bintang pesimis.
“Duh, kenapa harus pesimis sih Tang”
Dia itu pintar banget, kan kamu sendiri yang pernah bilang!
“iya sih, dia itu emang orang terpintar di sekolah ini.. tapi gak ada yang gak mungkin Tang, di dunia ini”
“Butuh usaha yang keras Tang, untuk hasil yang maksimal” seketika Fitri berubah menjadi sang motivator.
“Dan ini kesempatan kamu Tang, untuk ngebuktiin ke dia, kalau gak hanya dia yang paling pintar, karena di atas langit, masih ada langit..” ucap Fitri menjadi motivator tiada henti-hentinya.
“Udah-udah ngobrolnya nanti lagi, sekarang makan aja dulu” jawab Bintang dengan santai.
Setelah mereka selesai makan, mereka kembali ke kelas, dan ketika sampai di kelas
“Tang, semangat ya, Buat lombanya!” Terdengar suara teman-teman sekelasnya menyemangatinya
“Iya, makasih kawan” jawab bintang
H -1 nih, pikiran Bintang mulai was-was. Takut, senang, itulah yang saat ini ia rasakan
Mengapa tidak? Sebab ia tidak menyangka akan terpilih sebagai peserta lomba olimpiade matematika, dan ia takut dengan pesaing-pesaing nya yang jauh lebih pintar darinya.
Optimis Tang, optimis! Bintang berusaha meyakini dirinya sendiri.
Ia mengeluarkan buku kecilnya lagi dan ia menulis isi hatinya di buku itu
Dear Diary
H -1 lomba, gak ada yang gak mungkin di dunia ini. Hmm, bener juga kata Fitri..
Pengen banget buat ortu bangga
Hari ini adalah hari saatnya Bintang berlomba, Bintang pun percaya diri setelah mendapatkan motivasi dari sahabatnya.. kini impianya bukan hanya 1. tapi, selain ia ingin membahagiakan orangtuanya, bintang juga ingin membuktikan kalau dia bisa, ia tidak ingin dipandang sebelah mata oleh Riska. Ia ingin menunjukan kebolehanya, tanpa tinggi hati. Ia ingin tetap menjadi bintang yang rendah hati.
Teng, waktu dimulainya mengerjakan lomba. Berbagai macam peserta, dari sekolah yang ada di seluruh indonesia. karena ini merupakan olimpiade Nasional. Beratus-ratusan peserta yang ikut.
Bintang mengerjakannya dengan tenang, ia tidak terpengaruh dengan peserta-peserta yang telah selesai.. ia tetap percaya kepada kemampuanya karena ia telah berusaha dan berdoa.
Sedangkan Riska ia mengerjakannya dengan terlalu percaya diri dengan kemampuannya yang ia miliki. Ia sangat menyombongkan diri, dan ia sangat yakin, kalau dialah yang akan menang.
Lomba telah selesai, kini seluruh peserta hanya tinggal menunggu pengumuman siapa yang akan menjadi sang juara.
2 jam telah berlalu, kini saatnya yang paling mendebarkan, dan akhirnya
Juara 1 jatuh kepada “Bintang Nesya Permata Putri”..
Bintang pun menangis karena terharu, ia tidak menyangka, bahwa ialah pemenangnya.
Sedangkan Riska hanya meraih juara harapan 1, orang yang biasanya terpintar di sekolahnya.
Seluruh teman-temanya memberi ucapan selamat kepada Bintang. Semuanya pun ikut menangis karena bahagia.
Riska yang pada saat itu kalah dari Bintang, ia pun kini menyadari karena ia terlalu menyombongkan diri. Dan kini ia pun mengakui bahwa Bintanglah “Sang Juaranya”.
Dan Riska pun memberanikan dirinya untuk minta maaf kepada Bintang. karena ia pernah mengejeknya. Bintang pun memaafkannya.
Kini impian Bintang telah terwujud, tak hanya menjadi seorang bintang, tapi juga menjadi seseorang yang rendah hati. karena keberhasilan yang telah ia peroleh bukan saja karena kemampuanya, tapi karena motivasi orang-orang sekitarnya lah yang membuat ia menjadi berhasil.
Cerpen Karangan: Puji Lestari
SEMOGA BERMANFAAT :)

Cerpen Horror :)

Anak Misterius di Gerbang Sekolah


Cerpen Karangan: 
Setiap kali aku melihat dia. Dia adalah anak perempuan yang selalu berdiri di gerbang sekolahku. Setiap kali aku melihat orang lewat di hadapannya, tetapi mereka cuek pada anak perempuan itu. Aku sering menyapanya dengan cara tersenyum, dan dia membalas senyumanku. Saat aku ijin ke wc, aku melihat dia tetap berdiri di gerbang sekolah (tak mengikuti pelajaran).
Aku akhirnya menanyakan pada temanku chaca. “aku tak pernah melihatnya” tanggapan chaca ketika aku menceritakan soal itu padanya. “ah masa sih!” kataku. “benar sasha, aku tak pernah melihatnya”. Aku diam mendengar kata-kata chaca. Aku akhirnya memutuskan untuk bicara padanya.
Sepulang sekolah aku langsung menghampirinya. “kamu sedang menunggu siapa di sini?” tanyaku. “aku lagi menunggu kau untuk bicara padaku” kata anak perempuan itu. “maksudmu?” tanyaku. “kamu tak ingat? Aku teman sd kelas 1 kamu, kamu dulu sahabatku, tapi sekarang kau cuek padaku. Aku pindah sekolah ke sini. Di sini juga aku tak punya teman. Aku rindu untuk bicara lagi sama kamu” kata anak perempuan itu.
“kamu siapa…?” tanyaku. “aku sera, terimakasih karena sudah mau bicara padaku, daaah…!” kata anak perempuan itu. Baru pertama kali aku melihatnya pergi dari gerbang sekolah. Aku mencoba mengingat-ingat lagi. Tapi percuma saja, aku sudah lupa lagi. Sekarang aku sudah kelas 3 smp.
Sesampainya di rumah aku baru ingat. Sera dulu memang teman baik ku di sd angela. Tapi saat kelas 2 sd aku sudah punya temen baru lagi. Hal itu membuat aku lupa pada teman lamaku. Saat kelas 3 sd aku dengar dia keluar dari sekolah angela. Aku pikir dia juga sudah punya teman baru lagi, ternyata tidak. Saat smp, aku sekolah di smp garuda. Mungkin dia juga pindahnya ke sekolah ini.
Aku memutuskan untuk datang ke rumah sera. “selamat datang kak sasha, silahkan masuk!” kata almanti (adik sera). “ibumu ada?” tanyaku. “ada” kata almanti. Aku pun langsung masuk ke dalam. “sasha teman sera?” tanya ibu sera. “iya tante, sera ada?” tanyaku. Ibu sera langsung terdiam mendengar ceritaku. “sebenarnya… Mmmh… Sera sudah meninggal 1 tahun yang lalu”. Pantas saja hanya aku yang bisa melihat sera berdiri di gerbang sekolah, ternyata sera sudah meninggal.
“saya turut berduka cita” kataku. “iya terimakasih, dia meninggal karena stress” kata tante. “semoga saja arwah sera tenang di dunia sana” kataku. “iya, makasih sudah datang ke sini” kata tante.
Keesokan harinya aku tak pernah melihat sera berdiri di gerbang lagi. Tapi aku jadi tenang, selamat tinggal sera!
Cerpen Karangan: Maria S.M
SEMOGA BERMANFAAT :)